Hafni,S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Aima Sayang Bunda

Aima Sayang Bunda

Hampir satu minggu ini aku kurang enak badan, batuk yang melanda tentu saja terasa tidak nyaman. Seperti malam ini, Aima Si bungsuku merasa kantuk dan ia mengajak untuk tidur bersama. Setelah merebahkan badan yang terasa penat, aku bersama Aima bercerita tentang kegiatannya di sekolah tadi siang, ini sering kulakukan menjelang akan tidur agar aku mengetahui perkembangan buah hatiku. Setelah beberapa saat ia terlelap, kupandangi wajah polosnya, kubelai rambutnya dan kucium keningnya. Aima adalah anak yang periang dan lincah, ia sangat berbeda dengan kedua kakaknya. Percaya dirinya terkadang membuat aku tersenyum...kalau ada kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah pasti ia akan mengikuti. Seperti baru-baru ini ada pengumuman akan diadakan perlombaan di Desa kami pada bulan depan, Aima langsung merespon dan mengatakan kepadaku, "Bunda, Aima boleh ikut ya lomba busana muslim dan menghafal ayat-ayat pendek," sambil tersenyum ia memandang kepadaku penuh harap, agar aku memberi ijin kepadanya. Tentu saja aku sebagai orang tua sangat mendukung kegiatan ini. "Boleh, Sayang. Asal kamu berlatih dengan sungguh-sungguh," jawabku. Mendengar itu ia merasa bahagia kemudian memeluk dan menciumku.

Baru saja beberapa menit Aima tertidur pulas, tetiba batukku kumat nyambung-menyambung tentu saja sangat mengganggu, Aima terbangun dan menatapku, "Bunda, batuk yah?" tanyanya pelan dengan mata separuh tertutup. Aku merasa bersalah karena mengganggu tidurnya yang baru saja terlelap. Kemudian batukku semakin parah dengan suara yang keras tentunya, tenggorokanku terasa gatal sampai-sampai mataku berair menahankan batuk yang sangat menyakitkan ini. Aima pun segera bangun dan semakin merapat, dipegangnya leherku dan di elus-elus dengan tangan mungilnya. Batukku pun mulai reda tetapi hanya sebentar kemudian kambuh lebih parah lagi. Pada hal aku sudah minum obat, juga meminum ramuan tradisional. Tetapi tidak juga kunjung sembuh. Melihat batukku yang semakin parah, Aima merasa iba. Kulihat dari sorot matanya ada rasa kasihan melihat Bundanya yang bolak-balik ke luar dari kamar mandi. Setelah beberapa saat barulah batukku sedikit reda. Aima pun memejamkan matanya kembali, yang sebelumnya sempat mengatakan kepadaku, "Aima sayang, Bunda." Akhirnya ia tertidur pulas dengan mimpi indahnya. Dengan segera aku berlalu dari kamar tidurnya jangan sampai batuk ini mengganggu untuk kesekian kalinya...aku berharap semoga batuk ini segera menjauh dariku...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Semoga batuknya lekas sembuh Bunda

22 Aug
Balas

Aamiin... Terima kasih, Bunda Dyahni

23 Aug

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali